Cyber Counseling

Nak, kalian dirumah sampai tanggal 13 April  dalam rangka  MENCEGAH Pandemi corona. “BUKAN LIBURAN” Kami Guru terus  berikhtiar, bagaimana caranya  kalian tetap BELAJAR. Termasuk kami terus belajar, bagaimana materi yang ada di kurikulum sekolah tersampaikan pada kalian; itu penggalan kalimat yang disampaikan guru kepada peserta didiknya saat pengumuman yang disampaikan oleh pemerintah terkait dengan penyebaran Covid-19. (surat edaran menteri nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran corona virus disease (covid-19))

Dalam rangka social/fisikal distancing = jaga jarak di semua kegiatan sosial. kui tok sing penting  !!! saatnya berhenti bersosialita, lebih dekat keluarga, dan dekat dengan tuhan yang maha kuasa. Ketika bapak/ibu guru mata pelajaran sibuk mempersiapkan materi yang akan disampaikan secara daring, maka apa yang harus dilakukan oleh guru Bimbingan dan Konseling ? apakah akan diam saja karena mempunyai pemahaman tentang kanseling itu harus tatap muka, memang dalam konsep yang sederhana konseling dapat dimaknai sebagai proses bantuan yang diberikan konselor kepada konseli untuk menyelesaikan masalah, Sebagaimana pendapat (Prayitno 2004), bahwa proses konseling bertujuan membantu konseli untuk dapat memahami diri dan lingkungannya, sehingga dapat membawa seseorang menuju kondisi yang membahagiakan, sejahtera, nyaman, dan berada pada kondisi kehidupan yang lebih efektif. Pelaksanaan konseling yang sudah lazim dilakukan adalah dengan format tatap muka langsung antara konselor dengan konseli, namun sejalan dengan pesatnya perkembangan teknologi proses konseling hadir dengan metode yang berbeda, itu artinya proses konseling tidak hanya dimaknai sebagai pertemuan tatap muka (face to face) antara konselor dengan konseli yang dilakukan di ruangan, namun lebih dari itu konseling dapat dilakukan dengan format jarak jauh dan dengan bantuan teknologi yang dihubungkan oleh jaringan internet, yang dikenal dengan istilah e-konseling, atauc yber counseling atau dikenal juga dengan istilah virtual konseling.

            Di era zaman teknologi ini hampir semua sekolah menyediakan  jaringan internet sehingga cyber counseling cukup mudah dilakukan  oleh guru BK, Strategi ini sangat efektif untuk mengatasi kendala kesulitan tatap  muka antara konselor dan klien yang berjauhan tempat. Konselor dalam melaksanakan tugasnya telah berdasar pada  landasan ilmu pengetahuan dan teknologi, Interaksi antara konselor dengan klien tidak hanya dilakukan  melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui  hubungan secara virtual (maya), dalam bentuk cyber counselling.

Tentunya dalam melaksanakan konseling perlu diperhatikan tentang Etika dalam kegiatan Cyber Counseling (Corey, G. 2009) antara lain : 1) Konselor sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada klien dan klien dapat sepenuhnya memperhatikan konselor. 2) Klien benar-benar melihat dan merasakan bahwa konselor dalam kondisi selalu memperhatikan diri klien  dan permasalahannya. 3) Selama konseling, suara, mimik, gerak-gerik klien dan konselor jelas ditangkap oleh kedua belah pihak, dan keduanya merasa dekat satu sama lain. 4) Perhatikan etika yang berhubungan dengan asas konseling perorangan.

            Begitu juga dalam pelaksanaan cyber counseling (Balitbang. 2006) tetap memperhatikan Asas yang perlu dipegang teguh dalam kegiatan yaitu : 1) Asas kerahasiaan yang menuntut dijaminnya semua rahasia pribadi  klien. Konselor tidak boleh merekam proses cyber counseling tanpa izin  klien. 2) Asas kesukarelaan dan keterbukaan, menuntut adanya kesukarelaan  penuh dari klien untuk menjalani proses konseling. 3) Asas kenormatifan yang menuntut adanya kaidah dan norma yang  berlaku, baik norma agama, adat, hukum, dan kebiasaan selama cyber  counseling. 4) Asas kemandirian, yaitu keputusan diambil oleh klien sendiri dan  sanggup menanggung resiko akibat keputusannya tersebut.

Dalam pelaksanaan Cyber counseling keterampilan konseling yang digunakan konselor dengan teknik  (Prayitno& Amti Erman. 1999)  : 1) Mulai dari attending (penerimaan), responding (merespon),  (pemahaman) understanding  (pengambilan  tindakan) acting, personalizing (mempersonalisasikan), dan initiating (menginisiasiakan). 2) Penggunaan media teknologi hendaklah tidak jadi penghalang konselor untuk  melakukan keterampilan konseling. 3) Kesepakatan  waktu  penting  dilakukan      agar keduanya dapat bersama-sama  on  line. 4) Sikap penerimaan terhadap klien, baik melalui kontak mata, gerak tubuh ekspresi wajah, maupun ungkapan verbal. 5) Konselor dapat  mendengarkan klien dan klien dapat melihat dan mendengar konselor

Prinsip-prinsip dalam Cyber Counseling  (Truax da Carkhuf 2012) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1) Pemahaman empatik yang akurat bukan hanya menyangkut kepekaan konselor  terhadap perasaan-perasaan klien, tetapi juga mencakup kemampuan konselor  dalam mengkomunukasikan pemahaman tersebut, 2) Kehangatan yang tidak dibuat-buat (non possive warmith), berarti bahwa  konselor tidak menilai pribadi klien, tidak menuntut syarat-syarat tertentu pada  klien, dan menerima serta mengayomi konselor sebagai individu, 3) Ketulusan (genuineness), konselor bersikap wajar, tidak bersandiwara, tidak  berbeda apa yang dikatakan dan apa yang di hatinya, dan obyektif, 4) Kekongkritan dan kekhasan (concreteness dan specificity), yaitu pernyataan  konselor mengacu kepada perasaan, pengalaman, dan perilaku khusus klien.

Efektifitas Konseling Online/ metode cyber counseling, hal ini cukup efektif jika permasalahan yang dihadapi membutuhkan segera untuk dientaskan sementara tidak ada kesempatan atau terkendala jarak untuk dapat melakukan tatap muka langsung, maka konseling online atau cyber counseling dapat dijadikan alternatif pengentasan masalah.  Dan ketika cyber counseling dilakukan dengan media yang lengkap (menggunakan video call) dengan didukung tersedianya jaringan internet yang sangat cepat, hal ini hampir sama dengan melakukan konseling Face to Face atau tatap muka langsung.

Untuk melakukan konseling mengingat keterbatasan waktu untuk bertemu langsung dengan konseli, sedangkan konseli ingin segera masalahnya bisa dibantu untuk diselesaikan, kemudian dengan menggunakan media chat atau medsos (WA, IG dll) dalam aplikasi handphone android juga sangat efektif, metode ini cukup memberikan ruang bagi konselor untuk berpikir dan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh konseli. Penggunaan media jejaring sosial juga sangat memungkinkan, mengingat masalah yang disampaikan lebih kekinian, atau spontan, saat konseli ada masalah kecenderungan untuk menyampaikanya pada media sosial sangat sering terjadi, pengentasannyapun harus dilakukan sesegera mungkin mengingat kebutuhan konseli untuk didengarkan, didukung, dan diberikan penguatan dalam memilih atau memutuskan suatu pilihan yang sulit sangat penting untuk segera dibantu.Adapun keterbatasan di samping beberapa keunggulaan dari konseling melalui virtual, media internet atau cyber counseling di atas, ditemukan juga beberapa keterbatasan dalam cyber counseling diantaranya, ketersediaan jaringan sangat menentukan kesuksesan proses konseling, situs atau jaringan internet sangat diperlukan, mengingat koneksi sangat menentukan kesuksesan proses konseling, kemudian pengaplikasian perasaan empathi dan kontak psikologis juga tidak sebaik konseling tatap muka, artinya cyber counseling lebih kepada pengentasan masalah, sehingga kontak psikologis antara konselor dengan konseli lebih sedikit bisa dilakukan. Semoga bermanfaat bapak/ibu dapat mengunakan metode ini ditengah-tengah wabah covid-19 untuk mengurangi sosial/fifikal distancing

Oleh : Drs. Agus Nuryanto, M.M.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *